Sosiologi : Nilai dan Norma di Masyarakat

LAPORAN HASIL OBSERVASI
NILAI DAN NORMA
DI MASYARAKAT




disusun oleh :
Kelas : X E
Kelompok : 18
Linda Dwi Ariskadewi  (18)
Rizqi Inugroho (26)


SMA NEGERI 2 TANGGUL
Jl. Salak No. 126 Telp (0336) 441014
Tanggul – Jember
2011-2012



 
MOTTO
       1.   Berbuatlah lebih baik daripada berkata-kata
       2.   Sibuklah untuk memikirkan aib diri sendiri
       3.   Mengoreksi diri adalah modal sebuah tindakan
       4.   Jauhilah berburuk sangka dan menggunjing
       5.   Disiplin akan mengontrol tindakan melalui pikiran
       6.   Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain
       7.   Pandanglah seseorang dari sudut pandang yang positif
       8.   Syukuri apa yang kamu miliki saat ini
       9.   Kata maaf lebih baik daripada harus berdebat tak ada akhirnya
      10.  Buang pikiran negatif dan lakukan yang terbaik
      11.  Berbagilah sedikit kebahagiaanmu dengan orang lain
      12.  Jangan buang waktumu dengan melakukan hal yang tidak perlu
      13.  Iri hati hanya membuat jiwamu gelisah
      14.  Hal yang paling kecil kamu lakukan dapat membawa dampak besar bagi orang lain
      15.  Hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri
      16.  Jangan pernah meremehkan hal sekecil apapun
      17.  Hampiri orang yang menunggu uluran tanganmu
      18.  Janganlah menilai seseorang dari kekurangannya
      19.  Pikiran adalah cermin kehidupan
      20.  Saat membicarakan orang lain, Anda boleh saja menambahkan bumbu, tapi pastikan bumbu yang baik
      21.  Doaku hari ini : “semoga aku bisa menolong mereka yang membutuhkan aku”
      22.  Saat kau membalas kebencian dengan amarah dan caci maki, saat itulah musuhmu menang
      23.  Jangan takut mengakui bahwa diri kita tidak sempurna
      24.  Keburukan bukan untuk diperbaiki tapi dihilangkan, sedangkan kekurangan bukan untuk   dihilangkan tapi diperbaik
      25.  Jangan segan untuk mengulurkan tangan Anda 
      26.  Lebih baik menjaga mulut tetap tertutup dan biarkan orang lain menganggap anda bodoh. 


HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya Tulis Ilmiah ini membahas tentang “Nilai dan Norma di Masyarakat”. Karya Tulis ini dibuat dalam rangka menyelesaikan tugas sosiologi. Dalam Karya Tulis Ilmiah ini kami akan membahas 2 tema, yakni:
      1.  Menggunjing
      2.  Bersedekah
Hasil Karya Tulis Ilmiah ini merupakan karya dan hasil jerih payah kami dari beberapa sumber dan semua pihak yang telah membantu menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
Oleh karena itu Karya Tulis Ilmiah ini kami persembahkan kepada:
     1.  Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga kita dapat menyelesaikan Karya Tulis ini dengan lancar
      2.  Keluarga besar SMA Negeri 2 Tanggul yang telah berkenan menyediakan tempat bagi kami untuk menuntut ilmu
          3.    Almamater SMA 2 Negeri Tanggul yang selalu kami banggakan dan kami junjung tinggi
         4.    Bapak Drs. H. Imam Ma’sum, M.Psi selaku Kepala SMA Negeri 2 Tanggul yang menjadi pemimpin dan penasehat terlaksananya proses belajar mengajar di SMA Negeri 2 Tanggul
       5.   Bapak Sugiman, S.Pd selaku pengajar dan pembimbing dalam pembuatan Karya Tulis ini sehingga menjadi layak untuk dibaca
       6.     Perpustakan yang telah menjadi sarana mencari informasi dan pengetahuan yang sangat berperan penting dalam penyelesaian Karya Tulis ini
         7.   Orang tua yang telah memberi dorongan moral dan materi sehingga kami dapat menyelesaikan Karya Tulis ini dengan baik
          8.     Kelompok kami yang telah berusaha dalam menyelesaikan Karya Tulis ini
     9.  Semua pihak yang telah membantu kami dalam mencari informasi yang sangat berguna dalam menyelesaikan tugas ini 
         10.  Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan, yang telah membantu terselesainya tugas ini
Kami harap Karya Tulis ini berguna bagi para pembaca. Kiranya itu yang bisa kami sampaikan. Terima kasih



HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN HASIL OBSERVASI
NILAI DAN NORMA DI MASYARAKAT
MENGGUNJING DAN BERSEDEKAH

Disusun Oleh
Kelas : X E
Kelompok : 18
1. Linda Dwi Ariskadewi ( 18 )
2. Rizqi Inugroho ( 26 )


Karya Tulis ini di susun guna memenuhi tugas mata pelajaran Sosiologi serta untuk menambah wawasan tentang kemasyarakatan yang ada di lingkungan sekitar kita.

Penyusunan Karya Tulis ini telah disahkan pada :
Hari                 :..................................
Tanggal           : .................................
Tempat            : SMA Negeri 2 Tanggul

    Mengetahui,

                Kepala Sekolah,                                          Guru Pembimbing,


  DRS. H. IMAM MA’SUM, M.Psi                            SUGIMAN, S.Pd
 




KATA   PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul ” Nilai dan Norma di Masyarakat ” dengan baik dan tepat waktu.
            Karya Tulis Ilmiah ini disusun guna memenuhi salah satu tugas Sosiologi serta untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi kita semua.
            Karya Tulis Ilmiah ini akan membahas 2 tema, yaitu tentang :
            1. Perilaku menggunjing orang lain.
            2. Perilaku bersedekah pada orang yang membutuhkan.
            Pada kesempatan ini pula kami menyampaikan terima kasih dengan setulusnya kepada yang terhormat :
1. Bapak Drs. H. Imam Ma’sum, M.Psi selaku kepala SMA Negeri 2   Tanggul
2. Bapak Sugiman, S.Pd selaku guru pembimbing yang yelah membimbing dan memberikan saran sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.
3.   Semua Bapak dan Ibu guru di SMA Negeri 2 Tanggul.
4.  Semua pihak yang telah membantu sehingga Karya Tulis Ilmiah ini selesai.
            Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan yang berlipat ganda atas amal baik dan keiklasannya.
            Sebagai menusia biasa, kami menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini belumlah sempurna, maka dari itu apabila ada kesalahan atau kekurangan, kami mohon maaf dan mengharap segala saran dan kritik demi sempurnanya Karya Tulis Ilmiah yang selanjutnya.
            Akhirnya hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa semata, kami berharap semoga penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya penulis sendiri. Amin
                                                                                    Tanggul, November 2011

                                                                                                Penyusun
 


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................  i
MOTTO ..................................................................................................   i
HALAMAN PERSEMBAHAN ..............................................................  iv
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................   vi
KATA PENGANTAR ............................................................................    vii
DAFTAR ISI ..........................................................................................   viii
BAB. I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
            1.1. Latar Belakang ....................................................................    1
            1.2. Tujuan ..................................................................................   2
            1.3. Manfaat ...............................................................................   3
BAB. II PROFIL MASALAH ...............................................................    4
BAB. III PERMASALAHAN .................................................................  7
BAB. IV PEMBAHASAN ....................................................................   12
            4.1. Menggunjing .........................................................................  12
                   4.1.1. Pengertian Menggunjing ..............................................  12
                   4.1.2. Bahaya Menggunjing .................................................   13
                   4.1.3. Faktor-faktor Penyebab Menggunjing / Ghibah ........... 14
                   4.1.4. Yang Bukan Termasuk menggunjing ...........................  15
            4.2. Bersedekah ........................................................................  16
                   4.2.1. Pengertian Bersedekah ..............................................  16
                   4.2.2. Bersedekah Yang Mampu Menggetarkan Spiritualitas ..  17
                   4.2.3. Sedekah membawa kebaikan .....................................   18
            4.3. Solusi Hindari Menggunjing .................................................   20
            4.4. Solusi untuk Membiasakan Bersedekah ...............................   21
BAB. V PENUTUP .............................................................................   23
            5.1. Kesimpulan .........................................................................  23
            5.2. Saran ................................................................................   24
            5.3. Penutup .............................................................................   24
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................  26
 




BAB I
PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang
Dalam berperilaku, kita dituntut untuk menerapkan nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat. Selain perilaku yang bernilai positif, terdapat juga perilaku yang memiliki nilai negatif, itu bisa disebabkan karena tidak diterapkanya nilai dan norma yang berlaku dimasyarakat. Hal-hal tersebut sangat berpengaruh dalam pengembangan kepribadian seseorang.
Pada karya tulis ini yang pertama akan kami bahas adalah tentang ”Perilaku Menggunjing”. Menggunjing merupakan perilaku negatif, di kehidupan nyata sehari-hari, tak jarang kita mendengar atau menemukan orang-orang yang senang menggunjingkan orang lain. Jika materi gunjingan tersebut baik, tentu tidak masalah. Sebaliknya, jika materi gunjingan tersebut hal-hal yang negatif  (misalnya tentang kekurangan, keburukan, maupun kelemahan orang lain) maka gunjingan tersebut adalah sesuatu yang sangat tercela.
Yang kedua kami akan membahas tentang ”Perilaku Bersedekah”.  Bersedekah merupakan sikap/perilaku yang memiliki nilai positif. Bersedekah adalah salah satu bentuk kebudayaan dan menunjukkan sisi sosial manusia. Kepedulian terhadap sesama dengan memberikan bantuan atau sedekah kepada mereka yang membutuhkan adalah pencerminan manusia sebagai makhluk dengan jiwa sosial. Dengan bersedekah, kita bisa membagi kebahagiaan kepada orang lain sehingga orang lain itu juga turut merasa bahagia.
Setiap manusia selalu menghadapi masalah dalam melangsungkan kehidupannya. Untuk menghadapi berbagai masalah yang terdapat di kehidupan kita harus selalu mengembangkan dengan cara beradaptasi dan menyesuaikan terhadap lingkungan di sekitar agar kita memperoleh pola perilaku yang dapat kita jadikan bekal untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan. Semua yang dihasilkan manusia dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup disebut kebudayaan dan ini akan menjadi suatu hal yang penting bagi kelangsungan hidup manusia.
Manusia berusaha mendapatkan ilmu pengetahuan dengan menggunakan logika, menyerasikan perilaku terhadap kaidah-kaidah yang ada dalam masyarakat melalui estetika dan semua itu merupakan kebutuhan.
Proses sosialisasi yang tidak sempurna terjadi karena nilai-nilai dan norma-norma yang dipelajari kurang dapat dipahami dalam resiko yang akan terjadi, semoga seseorang tidak memperhitungkan resiko yang akan terjadi apabila ia melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan norma, perilaku yang memiliki nilai negatif seperti ini dapat terjadi akibat ketidak sempurnaan proses sosialisasi dalam keluarga.
Setiap individu dalam suatu masyarakat tidak hanya memiliki tujuan- tujuan yang dianjurkan oleh kebudayaannya. Namun tersedia pula cara-cara yang diperkenankan oleh kebudayaan tersebut dalam mencapai kebutuhan hidupnya tidak diberikan maka muncul kemungkinan yang besar akan terjadi perilaku menimpang.
Jadi perilaku seperti halnya menggunjing dapat diartikan sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Perilaku ini terjadi karena seseorang mengabaikan norma atau tidak mematuhinya sehingga di artikan dengan istilah negatif.

1.2.  Tujuan
Tujuan dari laporan ini antara lain :
a.   Untuk mengetahui pengertian dari menggunjing.
b.  Untuk mengatahui faktor-faktor penyebab adanya gunjing-menggunjing di sekitar kita.
c.   Untuk mengetahui mana yang bukan termasuk menggunjing.
d.   Untuk mengetahui pengertian bersedekah.
e.   Untuk mengetahui bagaimana bersedekah yang baik.
f.   Untuk mengetahui dampak negatif dari menggunjing dan dampak positif dari bersedekah.
1.3.  Manfaat
Manfaat yang dapat kita peroleh dari adanya Karya Tulis lmiah tersebut antara lain sebagai berikut :
a.   Kita dapat mengetahui pengertian dari menggunjing dan bersedekah.
b. Kita dapat mengetahui gambaran tentang apa sebenarnya kebiasaan menggunjing itu.      
c.  Kita dapat mengetahui faktor-faktor penyebab perbuatan atau perilaku menggunjing.
d.  Kita dapat mengetahui dampak positif dari bersedekah.
e.  Kita dapat mengetahui bahaya dari perilaku menggunjing.
f.  Kita mendapat banyak pengetahuan tentang perilaku positif dan perilaku negatif yang akan dibahas pada laporan ini.  

BAB II
PROFIL MASALAH

            Setiap masyarakat memiliki seperangkat nilai dan norma yang berbeda sesuai dengan karakteristik masyarakat itu sendiri. Nilai dan norma tersebut akan dijunjung tinggi, di akui dan digunakan sebagai dasar dalam melakukan interaksi dan tindakan sosialnya.
            Nilai dan norma tersebut harus di jaga kelestariannya oleh seluruh anggota masyarakat agar masyarakat tidak kehilangan pegangan dalam hidup bermasyarakat. Nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang di anggap baik dan apa yang di anggap buruk  oleh masyarakat. Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik dan buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang di anut masyarakat. Tak heran apabila di antara masyarakat yang lain terdapat perbedaan tata nilai.
            Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat.
            Tindakan atau perilaku menyimpang dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kondisi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat tradisional. Proses penyesuaian berlangsung sangat kuat. Di kota kemungkinan untuk terjadi perilaku menyimpang lebih besar, karena kota merupakan pintu gerbang pengetahuan dimana kemajuan teknologi sebagai hasil modernisasi dapat diakses dengan mudah dan mempengaruhi pola pikir serta perilaku masyarakatnya.
            Dalam Karya Tulis Ilmiah ini, kami akan menjelaskan mengenai perilaku Menggunjing dan Bersedekah yang dapat kita lihat dikalangan masyarakat kita. Dari 2 topik tersebut, kita dapat mengetahui bahwa kedua perilaku tersebut sangat bertolak belakang yaitu antara perilaku negatif dan perilaku positif.
            Pola kehidupan masyarakat tertentu kadang tanpa disadari oleh para warganya ternyata menyimpang dari nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat umum. Sama halnya dengan perilaku menggunjing, sekecil apapun perilaku tersebut, tetap saja perilaku tersebut termasuk perilaku negatif yang menyimpang, dan jika perilaku menggunjing dibiarkan, maka akan menjadi kebiasaan yang buruk di lingkungan masyarakat kita.
            Sedangkan perilaku bersedekah atau berderma merupakan perilaku yang sangat banyak mengandung nilai-nilai positif, karena dengan bersedekah, kita akan mendapat pahala dan juga kita dapat membagi kebahagiaan dengan orang lain selain itu, jika perilaku tersebut terus dikembangkan dalam kehidupan, maka akan terjadi kebiasaan yang sangat baik dalam kehidupan bermasyarakat.
            Seharusnya kiata lebih mengembangkan perilaku beramal kebajikan dengan pendekatan dua hal yaitu pertama mencari kemuliaan karena mengharapkan cinta dari Allah SWT dan yang kedua menjadikan perilaku tersebut sebagai kebiasaan kita sehari-hari. Dengan konteks mencari kemuliaan karena mengharapkan cinta dari Allah, maka kita beramal kebajikan dengan dorongan semangat berkorban, karena dalam pengorbanan yang semakin besar, kita mengharapkan cinta yang semakin besar dari allah SWT. Semakin tinggi pengorbanan yang kita lakukan, maka semakin besar cinta dari Allah yang kita harapkan.
            Selain dengan semangat mengharapkan cinta dari Allah SWT, beramal kebajikan juga harus diupayakan menjadi kebiasaan kita. Misalnya dengan bersedekah, kita berusaha agar setiap hari kita mampu bersedekah. Tidak ada hari yang kita lewati tanpa di dalamnya ada kegiatan bersedekah yang kita lakukan. Meskipun jumlah sedekah yang kita keluarkan cuma sebesar seribu rupiah, akan tetapi selalu kita lakukan setiap hari. Perbuatan amal kebajikan yang kita upayakan menjadi kebiasaan kita adalah cermin dari konsistensi dan keistiqomahan kita. Amal yang dilakukan secara terus-menerus adalah salah satu bentuk amal yang dicintai oleh Rasulullah SAW.
            Berbeda hal dengan perilaku atau kebiasaan menggunjing. Menggunjing bisa terjadi di mana saja ketika dua orang atau lebih bertemu dan kemudian membicarakan sisi negatif orang yang lain. Bertemu bisa berarti bertemu secara langsung secara tatap muka maupun bertemu tidak langsung melalui berbagai media perantara (internet). Baik langsung maupun tidak langsung, menggunjing bukanlah kebiasaan yang perlu dilestarikan. Apa yang terjadi sebenarnya bisa jadi berbeda dengan apa yang dipergunjingkan, ini bisa mengarah kefitnah dan sikap memandang rendah orang lain.
            Kelompok yang merasa dirinya paling hebat mencibir kegiatan yang dilakukan oleh kelompok lain yang di anggapnya lebih rendah dalam semua hal. Meskipun dilakukan di dalam rumah sendiri tetaplah tidak baik, ini akan menimbulkan sikap munafik. Di depan terlihat baik, ternyata di belakang menggunjing.
            Oleh karena itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebuah perilaku atau tindakan baik maupun buruk akan berdampak pada pola hidup dan kebiasaan-biasaan di lingkungan masyarakat.

BAB III
PERMASALAHAN

            Di dalam kehidupan bermasyarakat, kita dituntut untuk berperilaku sesuai aturan yang berlaku dalam suatu kehidupan masyarakat itu sendiri. Saat ini di masyarakat kita banyak terdapat perilaku-perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma di masyarakat, sehingga perilaku-perilaku yang bernilai positif jarang ditemukan di lingkungan sekitar kita. Gejala atau kejadian seperti ini, sudah mulai berkembang dari anak-anak balita sampai dengan anak tingkat pendidikan SMA.
            Kita semua tahu apabila kita menggunakan hati nurani dan berfikir secara rasional, sebenarnya untuk apa kita membicarakan orang lain, ataupun mencari-cari kesalahan orang lain, yang menyebabkan kerusakan dan ketidaknyamanan di lingkungan masyarakat kita.
            Dalam kehidupan sehari-hari manusia dalam berinteraksi dipandu oleh nilai-nilai dan dibatasi oleh norma-norma dalam kehidupan sosial. Norma dan nilai pada awalnya lahir tidak disengaja, karena kebutuhan manusia sebagai makhkluk sosial dan harus berinteraksi dengan yang lain menuntut adanya suatu pedoman, pedoman itu lama-kelamaan dibuat secara sadar.
            Mempunyai sikap dan perbuatan yang baik, akan mendukung seseorang dapat bersosial dengan baik. Demikian halnya dengan seseorang ketika berhadapan dengan orang banyak pada lingkungan tertentu, dia membutuhkan pegangan-pegangan tertentu untuk dapat berperilaku dan bersosial secara baik. Dengan memahami sikap seseorang pada umumnya, orang akan dapat memahami tingkah lakunya, karena tingkah laku seseorang di latar belakangi oleh sikapnya.
            Di dalam diri manusia pasti terdapat nilai sosial yaitu mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Untuk menentukan sesuatu itu dikatakan baik atau buruk, pantas atau tidak pantas harus melalui proses menimbang. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh kebudayaan yang dianut masing-masing masyarakat. Suatu tindakan dianggap sah, dalam arti secara moral diterima, kalau tindakan tersebut harmonis dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung tinggi oleh masyarakat di mana tindakan tersebut dilakukan. Dalam sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi kesolehan beribadah, maka apabila ada yang malas beribadah tentu akan menjadi bahan pergunjingan, cercaan, celaan, cemoohan, atau bahkan makian. Sebaliknya, kepada orang-orang yang rajin beribadah, dermawan, dan seterusnya, akan di nilai sebagai orang yang pantas, layak, atau bahkan harus di hormati dan di teladani.
            Seorang individu mungkin memiliki nilai-nilai yang berbeda, bahkan bertentangan dengan individu-individu lain dalam masyarakatnya. Nilai yang dianut oleh seorang individu dan berbeda dengan nilai yang dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat dapat disebut sebagai nilai individual. Sedangkan nilai-nilai yang dianut oleh sebagian besar anggota masyarakat disebut nilai sosial.
            Kalau nilai merupakan pandangan tentang baik buruknya sesuatu, maka norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima kerena sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang karena tidak sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat. Norma dibangun di atas nilai sosial dan norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Pelanggaran terhadap norma akan mendapatkan sanksi dari masyarakat.
            Di dalam masyarakat yang terus berkembang, nilai senantiasa ikut berubah. Penggeseran nilai dalam banyak hal juga akan mempengaruhi kebiasaan-kebiasaan ataupun tata kelakuan yang berlaku dalam masyarakat. Di wilayah pedesaan, sejak berbagai siaran dan tayangan telivisi swasta mulai dikenal, perlahan-lahan terlihat bahwa di dalam masyarakat itu mulai terjadi pergeseran nilai, misalnya tentang kesopanan. Tayangan-tayangan yang didominasi oleh sinetron-sinetron mutakhir yang acapkali memperlihatkan artis-artis yang berpakaian relatif terbuka, sedikit banyak menyebabkan batas-batas toleransi masyarakat menjadi semakin longgar.
            Berbagai kalangan semakin permisif terhadap kaum remaja yang pada mulanya berpakaian normal, menjadi ikut latah berpakaian minim dan terkesan makin berani. Model rambut panjang kehitaman yang dulu menjadi kebanggaan gadis-gadis desa, mungkin sekarang telah dianggap sebagai simbul ketertinggalan. Sebagai gantinya, yang sekarang di anggap trendy dan sesuai dengan konteks zaman sekarang (modern) adalah model rambut pendek dengan warna pirang atau kecoklat-coklatan. Jadi berubahnya nilai akan berpengaruh terhadap norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.
            Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu sistem yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain.
            Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingan serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya.
            Perilaku buruk yang kini telah menjadi kebiasaan di masyarakat sekitar kita adalah perilaku menggunjing. Jika di dunia nyata, bergunjing tentunya menggunakan media lisan/lidah (komunikasi lisan). Sedangkan di dunia maya  (seperti halnya internet), maka bergunjing kerap kali dilakukan lewat media komunikasi tertulis (tulisan). Walaupun medianya berbeda, kita memandang bahwa bergunjing di dunia maya (lewat bahasa tulisan) sama saja hakikatnya dengan bergunjing di dunia nyata yang menggunakan bahasa lisan. Artinya jika hakikatnya sama saja, maka hukumnya pun sama saja. Yaitu sebuah perbuatan yang tercela.
            Namun sayangnya, budaya/kebiasaan bergunjing ini ternyata sudah menjalar pula ke dunia maya (internet). Tak percaya, coba sesekali anda berkunjung ke forum detik, terutama yang bertopik entertaiment atau dunia artis. Ketika sebuah posting tentang kasus artis tertentu yang sedang heboh, maka hampir bisa pastikan akan menuai gunjingan dari kalangan member forumnya. Mungkin bukan salah forumnya, tapi lebih kepada etika para membernya yang kurang bijak menyikapi sesuatu.
            Tak cuma forum detik, kita juga seringkali menemukan budaya serupa di beberapa situs forum lainya (seperti kaskus). Bahkan tak jarang juga di kolom-kolom komentar blog. Khusus yang dikolom komentar blog, biasanya yang digunjingkan adalah sesama narablog. Kalau tidak, kemungkinan artis. Sepanjang tidak menyebutkan nama pihak yang digunjingkan, kami kira masih bisa ditolerir dan bahkan mungkin tidak tergolong menggunjing. Namun jika sudah terang-terangan menyebutkan nama dan membicarakan hal-hal negatif seputar orang tersebut, itu sudah tergolong menggunjing.
            Andai saja yang bergunjing memikirkan perasaan orang yang digunjing, tentunya mereka tidak akan mau berbuat begitu. Cukup merenung dan melakukan koreksi ke dalam diri, bagaimana jika seandainya kita yang dibicarakan begitu? Bagaimana perasaan kita ternyata kita yang sedang dipergunjingkan?
            Hal ini terlepas dari apakah orang yang sedang dipergunjingkan tersebut memang salah. Kalaupun ia memang salah, tak sepatutnya kita menggunjingkannya dengan seenaknya. Bahkan sama sekali dengan perasaan tanpa berdosa. Seolah-olah diri kita lebih suci atau lebih baik dari orang yang sedang kita gunjingkan. Menghindari bergunjing bukan berarti kita harus menjadi seseorang yang munafik atau suka berpura-pura memuji.
            Agama kitapun melarang kita menggunjing tentunya bertujuan untuk kebaikan bersama. Bahkan kita disarankan agar membicarakan kebaikan orang lain (ketika ia tidak ada dihadapan kita). Tujuanya adalah demi menyambung tali kasih sayang antar sesama.
            Lain halnya dengan perilaku bersedekah, terkadang orang tidak mau bersedekah dengan alasan takut jatuh miskin. Faktanya ternyata sedekah bisa membuat orang miskin jadi kaya. Perilaku bersedekah seperti ini harusnya bisa menjadi kebiasaan bagi kita. Dari cerita-cerita yang telah ada banyak yang merasakan nikmatnya dikemudian hari tapi tentu saja atas dasar keikhlasan bukan atas dasar pamer kekayaan tentunya.
            Dan orang-orang yang hebat dan besar dengan kekayaan yang berlimpah pun berani dan ikhlas bersedekah dengan jumlah yang sangat fenomenal.
            Dimulai dari diri sendiri dan menganjurkannya kepada orang lain.  Sebenarnya banyak sekali orang yang memiliki harta kekayaan yang melimpah, tetapi berperilaku bakhil, kikir, dan hanya mementingkan diri sendiri. Mereka tidak pernah peduli terhadap penderitaan, kesusahan, dan kesulitan orang lain. Dengan berperilaku seperti itu, mereka menganggap akan menjadi lebih baik, lebih menyejahterakan, dan lebih membahagiakan dirinya.
            Sikap dan pandangan hidup seperti ini sangatlah buruk. Bahkan agama Islam pun secara tajam mengkritik sikap tersebut. Sikap mementingkan diri sendiri itu pasti akan banyak membawa kerusakan. Bukan hanya tatanan kehidupan pribadi dan keluarga yang dirusak. Perilaku tersebut juga merusak masyarakat dan bangsa di dunia apalagi di akhirat kelak. Hal ini jelas sangat berbeda secara diametral dengan pandangan orang-orang progmatis, materialis, dan egois.
            Kebahagiaan yang hakiki dan sejati justru akan dapat diraih manakala kita mampu memberikan sesuatu yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan. Fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang menderita lainnya, yang kini jumlahnya semakin banyak, adalah kalangan yang banyak memerlukan kepedulian manusia-manusia yang senang berbagi.
            Sikap seperti ini ternyata ujung dan akhirnya akan memberikan kebahagiaan yang sejati bagi kita semuanya. Pantaslah dalam perspektif pandangan ajaran Islam bahwa tangan di atas  (memberi) jauh lebih baik daripada tangan di bawah (hanya mau menerima). 

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1.   Menggunjing
4.1.1.  Pengertian Menggunjing
Menggunjing atau dalam bahasa jawa sering disebut dengan ngrasani, ngglendhengi, yaitu membicarakan kejelekan orang lain ketika orang yang dibicarakan tidak ada. Hal ini banyak terjadi di sekitar kita. Ketika kita berkumpul maka akan sangat enak sekali kalau topik obrolan adalah membicarakan orang lain, atau yang popular dengan kata-kata menggosip. Dalam ” acara ” menggosip ini sangat rentan sekali untuk menjerumus dalam wilayah menggunjing, karena akan ada usaha untuk memojokkan atau menjatuhkan orang lain. Maka tak heran kalau kemudian acara infotainment di telivisi diharamkan.
Ketika membicarakan tentang orang lain, atau ngglendheng orang lain itu akan mengatakan ”ini ndak menggunjing lho, saya cuma ngomong apa adanya” atau ”aku nggak bermasud menjelek-jelekkan loh, aku kan cuma mau memberitahu kamu aja, kalau si anu itu begini-begitu”.  Begitulah dalih orang yang membicarakan orang lain. Dan masih banyak lagi kata-kata untuk mengelak agar tidak dikatakan menggunjing orang lain.
Menghindari untuk tidak menggunjing orang lain memang sangat sulit. Karena topik untuk menggosip tidak akan pernah habis. Dari satu sifat uyang yang digunjingkan akan merembet ke sifat yang lain, atau dari satu orang merembet ke orang-orang terdekatnya. Begitulah, menggunjing menjadi topik yang hangat untuk didengarkan.
Menggunjing berawal dari sikap suudzon yang berlebihan. Suudzon adalah sikap berburuk sangka terhadap orang lain. Sikap ini berangkat dari sikap meremehkan, merendahkan, atau kecurigaan yang besar. Sikap meremehkan membawa kita kepada sikap tidak menghargai orang lain. Ini sama dengan merendahkan orang lain. Sedangkan sikap kecurigaan yang besar berawal dari keengganan memahami orang lain serta tidak mau mencari kejelasan tentang suatu masalah. Atau kita hanya mendengar suatu masalah dari satu pihak tanpa mau mencari kejelasan dari orang lain atau dalam istilah kerennya tidak ada tabayyun dan cross check/konfirasi. Orang dengan tipe suka menggunjing ini biasanya hanya berani membicarakan orang lain di belakang. Tidak berani berterus terang. Di depan bermanis-manis muka tapi menikam dari belakang. Ketika berhadapan dengan seseorang secara langsung tidak mau berterus terang, tetapi begitu orang itu pergi segera di cari-cari kekurangannya. Bukankah tidak ada orang yang sempurna? No bodies perfect.
4.1.2.  Bahaya Menggunjing
Bahaya dari sifat menggunjing ini bagi orang yang digunjing adalah reputasinya (nama baiknya) turun dan terpojok tanpa bisa membela diri. Padahal belum tentu orang yang dibicarakan tersebut bermaksud seperti yang diomongkan, mungkin saja orang yang berbuat keliru itu khilaf atau lupa. Dan bisa jadi yang menjelek-jelekkan atau menggunjing tidak lebih baik dari orang yang dijelek-jelekkan tersebut. Ini semua berangkat dari kurangnya penghargaan (opresiasi) dan pengakuan terhadap orang lain. Sifat menghargai orang lain menjadi barang mahal di masyarakat kita. Yang ada adalah sifat sombong dan gengsi gede-gedean.
Maka benar kalau Allah mengumpamakan menggunjing orang lain adalah bagaikan membakar kayu. Cepat menghanguskan dan meluluh lantakkan barang yang dibakar. Gunjingan akan mengalir dan menggelinding terus bahkan ketika orang yang digunjing tersebut sudah bertobat dan berhenti berbuat jelek. Ini akan sulit sekali untuk mengubah pikiran (persepsi atau image) orang  yang sudah terlanjur termakan oleh isu gunjingan tersebut. Orang menjadi mudah mengecap orang ini begini dan begitu dengan gunjingan. Mudah sekali membingkai seseorang dengan bingkai atau frame yang tidak baik.
Allah juga mengumpamakan orang yang suka menggunjing ini dengan istilah suka memakan bangkai. Menyerang seseorang ketika orang itu tidak ada adalah sama dengan memakan bangkai (menjijikkan). Ya, karena sesuatu yang mati tidak akan membalas ketika kita cabik-cabik. Ini kemudian bisa disebut dengan tidak jantan, beraninya di belakang. Mungkin inilah yang sering dituduhkan oleh orang non-jawa yang menyebut bahwa orang jawa itu kalau di depan tampak bermuka manis, tetapi di belakang suka pating glenik, grenengan dewe, dengan ngenjepi, memelototi, membicarakan jeleknya. Bagaikan falsafah blangkon, yang dari depan tampak bagus dan sopan tetapi mbendhol di belakang serta baju jawa yang tampak bagus dari depan tetapi menyimpan keris di punggungnya, siap ditikamkan kepada orang lain. Maka sejajar dengan sifat ini adalah sifat suka mencari-cari kekurangan orang lain, mudah curiga, tidak mau menghargai, menerapkan standart yang terlalu rendah terhadap orang lain, meremehkan dan merendahkan dan sederet sifat-sifat yang tidak baik yang berhubungan dalam hal pergaulan dengan orang lain. Sanggupkah kita mengurangi sifat ini? Hanya proses dan waktu yang bisa menentukannya.
4.1.3.  Faktor-faktor Penyebab Menggunjing / Ghibah
Beberapa alasan yang menyebabkan seseorang menggunjing orang lain :
Ø Karena alasan meredakan amarah diri. Maksudnya, ketika ada seseorang yang membuat marah, maka ia lantas menggunjing orang tersebut hanya karena ingin meredakan amarah dirinya. Dengan alasan bahwa dengan menceritakan aib orang yang membuatnya marah dapat meredakan kemarahannya, seseorang membenarkan dirinya untuk menggunjing orang lain.
Ø Hanya ingin menyesuaikan diri dengan teman-temannya atau dengan alasan menjaga keharmonisan. Karena alasan pergaulan, banyak orang senang membicarakan perihal yang lain, yang mana itu bisa jadi tidak disukai oleh yang bersangkutan. Beberapa orang mengaku tidak percaya diri saat berkumpul dengan teman-teman jika mereka tidak mengetahui hal ikwal mengenai orang-orang di sekitarnya. Padahal hal tersebut yang dapat mendekatkan seseorang kepada ghibah sekaligus fitnah.
Ø  Ingin mengangkat diri sendiri dan menjelek-jelekkan orang lain. Persaingan dalam kehidupan dapat mengakibatkan seseorang mengambil jalan lain untuk memberikan nilai buruk pada orang lain. Sehingga dengan menggunjing dan menceritakan aib seseorang, maka ia dapat memperoleh suatu perbandingan yang lebih baik terhadap orang yang dijelek-jelekkannya.
Ø Menggunjing untuk canda dan lelucon. Dia menggunjing seseorang dengan maksud membuat orang-orang tertawa. Hal ini sering terjadi dilakukan kita, ketika dalam obrolan ringan seseorang menceritakan suatu kejadian yang terjadi pada orang lain yang bertujuan untuk membuat lawan bicaranya tertawa. Padahal hal ini menjadikan seseorang berbuat ghibah atau bohong atas cerita yang dikatakannya.
4.1.4.  Yang Bukan Termasuk Menggunjing
Ada beberapa yang menyebabkan suatu perkataan mengenai hal atau keadaan seseorang yang diceritakan kepada orang lain itu tidak termasuk ke dalam ghibah / gunjingan, antara lain :
1.  Untuk mengenali identitas seseorang hingga tidak ada kata lain yang dapat digunakan. Seperti halnya, mengatakan a’war (orang yang matanya buta sebelah) hingga tidak ada kata lain yang dapat digunakan untuk mengenalinya.
2. Bila hal yang dikatakan mengenai seseorang benar-benar dilakukannya di depan khalayak ramai.
3. Bila perkataan yang dikatakan itu merupakan pembelaan atau bantahan mengenai seseorang yang digunjingkan. Misalnya saat mendengarkan seseorang menceritakan sesuatu tentang orang lain yang didengarnya dari seseorang, dan orang yang mendengarkan mengatakan bahwa cerita itu adalah dari seseorang yang tidak benar ucapannya (suka berdusta atau bergunjing).
4.  Membicarakan suatu perbuatan jelek seseorang baik yang terjadi pada dirinya maupun orang lain sebagai kesaksian di depan hakim.

4.2.   Bersedekah
4.2.1.  Pengertian Bersedekah
Sedekah asal kata bahasa Arab shodaqoh yang berarti suatu pemberian yang diberikan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Juga berarti suatu pemberian yang diberikan oleh seseorang sebagai kebajikan yang mengharap ridho Allah SWT dan pahala semata.
Dalam sudut pandang Islam, hukum sedekah menjadi haram yaitu dalam kasus seseorang yang bersedekah mengetahui pasti bahwa orang yang akan menerima sedekah tersebut akan menggunakan harta sedekah untuk kemaksiatan. Adakalanya juga hukum sedekah menjadi wajib yaitu ketika seseorang bertemu dengan orang lain yang sedang kelaparan, hingga dapat mengancam keselamatan jiwanya, sementara dia mempunyai makanan yang lebih dari apa yang diperlukan saat itu.
Sedekah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu diberikan kepada orang yang memang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan.
4.2.2.   Bersedekah yang Mampu Menggetarkan Spiritualitas
Beberapa cara bersedekah, yaitu :
1. Bersedekahlah saat merasa ingin bersedekah, jangan sampai merasa terpaksa. Bila saat bersedekah kita justru merasa kesal, maka akan tertanam di bawah sadar bahwa bersedekah itu tidak enak, bahkan mengesalkan. Mungkin seperti kalau kita bayar parkir kepada preman di pinggir jalan. Ada perasaan terpaksa, tak berdaya, bahkan dirampok. Bukan karena besar kecilnya uang, tapi rela tidaknya perasaan saat memberikan sumbangan. Kalau sedang suntuk, tunggu sampai hati lebih riang. Memberi dengan berat hati akan memberi asosiasi buruk ke alam bawah sadar.
2. Bersedekah kepada sesuatu yang disukai sehingga hati tergetar karenanya. Mungkin suatu ketika kita ingin menyumbang yatim piatu, diwaktu lain mungkin menyumbang perbaikan jembatan, mungkin pelestarian satwa yang hampir punah, mungkin disumbangkan untuk modal usaha bagi seorangpemula, intinya adalah kita sebaiknya menyedekahkan pada hal yang  membuat perasaan kita tergetar., setiap orang akan berbeda.  Sering kali seseorang menyumbang ke tempat ibadah, tapi hatinya tidak sejalan, hanya karena kebiasaan. Menyumbang yang tak bisa dihayati tak akan menggetarkan kalbu.
3. Bersedekahlah dengan sesuatu yang bernilai bagi kita. Kebanyakan wujudnya adalah uang, namun lebih luas lagi adalah benda yang juga kita suka, pikiran, tenaga, ilmu yang kita suka. Dengan menyumbang dengan sesuatu yang kita sukai, membuat kita juga merasa berharga karena memberikan sesuatu yang berharga.
4. Bersedekahlah dalam kualitas yang terasa oleh perasaan. Bagaimana memberi sedekah 25 rupiah? Bagi kebanyakan orang nilai ini sudah tidak lagi terasa. Untuk seorang dengan gaji 1 juta, maka 50 ribu akan terasa. Bagi yang berpenghasilan 20 juta, mungkin 1 juta baru terasa. Setiap orang memiliki kadar kuantitas berbeda agar hatinya tergetar ketika menyumbang nilai 10 persen biasanya menjadi anjuran dalam sedekah (bukan wajib), mungkin karena sejumlah nilai itulah kita akan merasakan ” beratnya” melepas kenikmatan.
5.  Menyumbang anonim akan memberikan dampak lebih kuat. Ini erat kaitannya dengan ketulusan, walaupun tidak anonim juga tak apa-apa. Dengan anonim lebih terjamin bahwa kita hanya mengharap balasan dari Tuhan (ikhlas).
6.   Bersedekah tanpa pernah mengharap balasan dari orang yang kita beri. Yakinlah bahwa Tuhan akan membalas, tapi tidak lewat jalan orang yang kita beri. Pengalaman para pelaku kebanyakan datang menunjukkan bahwa balasan datang dari arah yang lain.
7.  Bersedekahlah tanpa mengira bentuk balasan Tuhan atas sedekah itu. Walaupun banyak pengalaman menunjukkan bahwa kalau bersedekah uang akan dibalas dengan uang yang lebih banyak, namun kita tak layak mengharap itu. Siapa tahu sedekah itu dibalas Tuhan dengan kesehatan, keselamatan, rasa tenang, dll, yang nilainya jauh lebih besar dari nilai uang yang disedekahkan.
4.2.3.   Sedekah Membawa Kebaikan
Ada beberapa fakta yang menunjukkan bahwa perilaku sedekah dapat memberi kebaikan-kebaikan bagi pemberi sedekah maupun penerimanya.
1.   Orang sukses dan kaya ternyata suka bersedekah
Anda kenal dengan Bill Gates? Bill Gates pernah tercatat sebagai  orang terkaya di dunia pada beberapa tahun lalu.
Bill Gates juga merupakan seorang yang sukses memimpin perusahaan raksasa Software yaitu Microsoft. Fakta menunjukkan bahwa Bill Gates adalah orang yang dermawan, bahkan dia menyisihkan 25 persen pendapatannya per tahun untuk di sumbangkan di bidang sosial.
Selain Bill Gates, tokoh dunia lainnya yang sukses seperti : Donal Trump, Oprah Winfrey, dan Warren Buffet berlomba-lomba menyumbangkan sebagian harta atau penghasilan dari bisnisnya untuk kegiatan sosial, dan bisa anda lihat bukannya mereka jadi bangkrut, malah bisnis dan karir mereka menjadi semakin besar.
2.   Banyak agama mengajarkan utamanya untuk sedekah
Banyak agama mengajarkan utamanya untuk bersedekah, sedekah adalah memberikan atau membantu seseorang untuk turut merasakan rezeki yang Tuhan berikan kepada kita atau membagi kebahagiaan kepada orang lain sehingga orang lain itu juga turut merasa bahagia. Dalam agama Islam sedekah hukumnya sunah, sedangkan sedekah yang bersifat wajib disebut zakat. Sedekah yang berkaitan dengan materi disebut infaq dan sedekah sendiri mempunyai pengertian luas yaitu mencakup materi dan non materi (misal : pertolongan, tenaga, pikiran, dsb)
3.   Bukti penelitian otak terhadap perilaku sedekah.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa : sedekah dengan ikhlas memberikan rasa Senang yang sama dengan ketika Senang saat menerima uang atau pemberian dari orang lain.
4.   Orang yang suka bersedekah ternyata lebih bahagia
Orang akan merasa lebih puas kalau dirinya mampu atau bermanfaat untuk menolong orang lain, baik itu dengan bentuk bantuan uang, harta benda, jasa maupun keterampilan. Kemampuan membantu orang lain ternyata mampu membuat seseorang bahagia.
Contoh nyata adalah para relawan yang sering membantu korban bencana alam. Hal ini ditemukan oleh Ekonom Stephen Meier dan Alois Stutzer. Menurut mereka, para relawan merasa lebih puas dengan hidupnya ketimbang mereka yang bukan relawan.

4.3.  Solusi Hindari Menggunjing
Menggunjing atau membicarakan orang lain sudah menjadi kebiasaan buruk di kehidupan masyarakat. Namun bagaimanakah apabila kebiasaan bergosip semakin hari semakin menyatu dalam kehidupan kita. Indikatornya, kalau tidak menggunjing atau membicarakan orang lain sehari saja, Anda merasa resah karena seakan Anda tidak mendapatkan informasi apapun pada hari itu. Bagaimana cara menghentikannya tanpa menyinggung lawan bicara atau tanpa mengesankan Anda sebagai seorang yang jaim (jaga image).
Berikut ini Tips cerdas menghindari kebiasaan menggunjing :
1.   Lari ! Ketika berkumpul bersama teman/orang lain biasanya topik yang paling menarik dibahas yaitu membicarakan orang lain. Sebisa mungkin kita menghindari untuk ikut membicarakan orang lain. Contoh : Saat makan siang, semua orang membicarakan gosip keretakan rumah tangga bos. Penasaran? Tapi karena Anda harus ikut terpancing ikut bergosip? Buruan cari alasan untuk pergi selesai makan. Sampaikan saja bahwa Anda sedang banyak pekerjaan atau kebelet pipis.
2.  Pura-pura sibuk, Memang repot kalau harus berteman atau bertetangga dengan biang gosip. Sebentar-sebentar dia akan bilang ”Eh, tahu nggak bla...... bla...... bla.......?” Kalau emang malas menanggapi hal-hal yang menurut Anda tidak penting, sok sibuk saja. Pura-pura sibuk mengerjakan pekerjaan rumah, atau pura-pura sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mendengarkan musik seharian, juga bisa jadi pelarian tepat.
3. Jadi Miss No Comment. Saat gosip beredar, bersikaplah sebagai pendengar yang baik. Kalaupun mau terlibat dalam percakapan, pilihlah komentar netral seperti ”Wah, saya baru dengar soal ini dari kalian”, atau ”Seru juga ya kejadiannya!”.
4. Pilih Topik lain. Kalau memang tida bisa tahan godaan untuk tidak bergosip, pilihan topik yang tidak menyangkut masalah orang lain. Mungkin tentang tugas sekolah, tempat rekreasi, atau hobi masing-masing.
5.  Simpati sendiri saja jika kita memiliki masalah pribadi. Lebih baik semua kejadian tersebut disimpan sendiri, agar tidak memancing orang lain menggunjing Anda. Kalaupun mau curhat, pilihlah teman yang benar-benar bisa Anda percaya. Jangan lupa : satu orang saja cukup!
6.  Ingat karma. Selalu tempatkan diri anda pada posisi orang yang sedang digunjing. Bayangkan perasaan anda jika digosipkan macam-macam oleh teman sendiri. Tentunya sedihkan?
7.  Jangan Menghindar. Sah-sah saja kalau Anda sama sekali tidak mau diajak bergunjing. Namun buka berarti Anda boleh menghina atau menghakimi orang lain yang (masih) suka bergunjing. Biarkan saja mereka.
4.4.   Solusi Untuk Membiasakan Bersedekah
Mendapatkan apa yang diharapkan tentu akan sangat menyenangkan. Begitu juga jika kita memberikan sesuatu kepada orang lain hingga membuat orang itu senang, maka kita juga akan merasa senang, bahkan lebih senang dari pada kita mendapatkan sesuatu.
Untuk membiasakan bersedekah kita bisa menerapkan perilaku sebagai berikut :
1. Menanamkan kebiasaan membantu orang lain dilakukan sejak kecil. Karena dengan begitu, kita akan merasa wajib menolong jika melihat orang yang membutuhkan.
2.  Luruskan niat, hendaklah yang dicari hanyalah pahala dari Tuhan, ikhlas karena ingin beramal baik bukan karena pamer atau ingin dipuji manusia dengan dikatakan dermawan.
3.  Lebih bisa memihak orang-orang yang membutuhkan, lebih peka untuk melihat kondisi sekitar kita, agar kita tidak mementingkan diri sendiri saja, tetapi juga mementingkan orang lain.
4.  Bersedekahlan dengan harta yang paling dicintai, agar orang lain juga bisa merasakan kebahagiaan yang juga kita miliki.
5.   Memberikan sebanyak-banyaknya potensi sedekah yang memungkinkan. Semakin mudah kita melepaskan harta di tangan karena Tuhan semata, maka semakin dekat hati kita kepada Tuhan.
6.  Keluarkan sedekah walaupun sedikit, dengan begitu kita akan terbiasa memberi sedekah hingga tingkat yang besar.
7.  Lembut kepada fakir miskin dan jangan diungkit-ungkit apa yang kita berikan kepada mereka.

BAB V
PENUTUP

5.1.  Kesimpulan
Dari pembahasan-pembahasan yang sudah kami bahas sebelumnya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pada zaman modern sekarang ini, baik dari kalangan remaja ataupun dari kalangan orang dewasa banyak diantara mereka yang kurang mengerti atau memahami dengan baik norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagaimana kita ketahui menggunjing atau ghibah adalah hal yang harus dihindari. Hal ini perlu kita tanamkan sedari kecil kepada anak-anak indonesia. Harapannya agar ketika dewasa kita akan terbiasa untuk menghindari menggunjing orang lain. Karena apabila orang sudah terbiasa menggunjing maka akan menjadi ringan saja lisannya untuk membicarakan kejelekan orang lain.
Meski begitu, sebagaimana yang kita ketahui terkadang gunjingan muncul dari ketidaksengajaan. Berawal dari pembicaraan ringan akhirnya obrolan beralih ke arah membicarakan orang lain. Tentunya kita tidak berharap menjadi orang yang mudah membicarakan kekurangan orang lain. Karena sebagaimana yang kita ketahui yang sering menjadi bahan gunjingan biasanya adalah kekurangan atau kejelekan orang lain. Oleh karena itu dengan pemahaman bahwa tidak ada manusia yang sempurna, diharapkan kita menjaga lisan ketika ingin membincangkan kejelekan orang lain. Karena bisa jadi kita lebih jelek dari orang yang kita bicarakan.
Berbeda hal dengan bersedekah, bersedekah harus ditanamkan sejak kecil. Karena dengan begitu kita akan terbiasa untuk membantu atau menyumbangkan sebagian rezeki yang kita miliki. Bahkan hasil penelitian modern menunjukkan bahwa perilaku bersedekah atau berderma, baik dengan materi maupun tenaga profesional, memberikan dampak positif bagi kesehatan jiwa dan raga itulah yang disebut hukum kekekalan energi yang berlaku pula untuk energi amal manusia. Kalau kita gemar memancarkan energi positif dalam berbagai bentuk, maka kitapun akan mendapatkan feedback dari lingkungan berupa energi positif. Begitupun sebaliknya.
Karena itu, dalam hal bersedekah misalnya, harus dalam bentuk yang terbaik, agar kitapun memperoleh ganjaran yang terbaik dari Tuhan. Menolong orang lain dengan memberikan sedekah bisa bermanfaat untuk menjaga dan terpeliharanya kesehatan kita dan dapat mengurangi efek penyakit dan kekacauan serius maupun ringan secara psikologis maupun fisik.

5.2.   Saran
Untuk menghindari perilaku buruk dan menerapkan perilaku baik di kehidupan masyarakat, maka disarankan untuk :
- Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Esa
- Lebih bisa menjaga lisan dalam berbicara
- Berhenti menilai kekurangan orang lain, dan belajar mengoreksi diri
- Menghindari perilaku membicarakan orang lain
- Menghilangkan rasa takut jatuh miskin dalam bersedekah
- Lebih ikhlas dalam memberi/menyumbangkan sesuatu
- Lebih peka terhadap kondisi lingkungan sekitar
- Tidak mementingkan diri sendiri

5.3. Penutup
Dengan terselesainya Karya Tulis Ilmiah ini, maka kami penyusun memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat, taufik dan ridho-Nya kami dapat menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kami dalam bidang studi Sosiologi yaitu berupa Karya Tulis Ilmiah yang bertemakan ”Nilai dan Norma di Masyarakat” dengan baik dan benar.
Meskipun telah disusun sedemikian rupa kami para penyusun tetap menyadari adanya kekurangan dalam Karya Tulis ini, oleh sebab itu kami para penyusun sangat berharap dan akan menerima dengan senang hati segala kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi sempurnanya Karya Tulis Ilmiah selanjutnya.
Dalam menyusun Karya Tulis ini tidak lepas dari peran serta berbagai pihak yang telah membantu menyelesaikan Karya Tulis ini. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami.
Akhirnya kami para penyusun berharap semoga Karya Tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

DAFTAR PUSTAKA

http://yosinakbar.wordpress.com/category/agama/
http://www.pinginkerja.com/artikel–detail.php?id=201110100000
http://fayday.wordpress.com/2007/II/13/menghindari-ghibahmenggunjing/
http://blog.re.or.id/ghibahmenggunjing.htm
http://sigitwahyu.net/ensiklopedi/pengertian-shodaqoh-sedekah.html
http://www.anneahiro.com/sedekah.htm
http://dsperdana.wordpress.com/2011/04/19/manfaat-sedekah/
http://mrpams212.wordpress.com/2007/II/15/nilai-dan norma-dalam-masyarakat/
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Norma-sosial
http://www.slideshare.net/sarhaji/nilai-dan-norma-sosial
http://nilaieka.blogspot.com/2009/02/materi-nilai-dan-norma.html
http://chanersyah1945.blogspot.com/2008/04/contoh-karya-tulis-ilmiah.html


1 comment:

Anonim mengatakan...

dasar jahat, ga bisa di copy, padahal kami butuh, sapa tahu bisa di gunakan untuk membangun bangsa dan negeri yang baik dan benar!

Poskan Komentar